Mengapa Indonesia Ikut Merayakan Piala Dunia yang Tak Pernah Kami Mainkan?


Oleh : Fajar Tri Kusmanto

Malam itu, jam di dinding warung kopi menunjukkan pukul dua dini hari, tetapi tidak ada satu pun kursi yang kosong. Di sebuah warung kopi di Yogyakarta, layar proyektor digantung di dinding, kabelnya menjuntai melewati atap seng, dan puluhan orang duduk berdesakan. Spanyol melawan Prancis, semifinal Piala Dunia 2026, dan seluruh gang itu terbelah menjadi dua kubu yang saling meneriakkan yel-yel dengan Jawanya yang kental. Seorang bapak paruh baya memakai jersey Spanyol yang sudah pudar warnanya, duduk bersebelahan dengan anak muda berkaus Timnas Prancis yang baru dibeli minggu itu juga. Ketika Spanyol mencetak gol di menit ke-22, warung kopi itu meledak seperti kembang api Tahun Baru. Orang-orang berpelukan, ada yang menangis, ada yang berlari keluar warung kopi hanya untuk berteriak ke langit.

Yang menarik dari pemandangan ini bukan kegaduhannya, melainkan kejanggalannya. Tidak ada satu pun pemain Indonesia di lapangan itu. Tidak ada bendera Merah Putih berkibar di antara puluhan ribu suporter di stadion. Timnas Indonesia bahkan belum pernah sekali pun menjejakkan kaki di putaran final Piala Dunia sejak turnamen ini pertama kali digelar pada 1930. Namun anehnya, hal itu sama sekali tidak mengurangi intensitas kegembiraan, kecemasan, bahkan kepedihan yang dirasakan jutaan orang Indonesia setiap kali Piala Dunia bergulir. Warung-warung kopi penuh, grup WhatsApp keluarga tiba-tiba ramai membahas formasi 4-1-2-3, linimasa media sosial dipenuhi meme dan prediksi skor, dan orang-orang rela mengorbankan jam tidur demi menyaksikan pertandingan yang, secara harfiah, tidak ada urusannya dengan nasib bangsa ini.

Maka pertanyaan yang layak diajukan bukan soal siapa yang akan juara. Pertanyaan yang lebih dalam dan lebih menggelitik adalah ini: mengapa masyarakat Indonesia begitu larut dalam pesta sepak bola dunia, padahal negaranya belum pernah tampil di sana? Pertanyaan inilah yang akan menuntun seluruh perjalanan tulisan ini, karena jawabannya ternyata tidak banyak berhubungan dengan sepak bola itu sendiri, melainkan dengan sesuatu yang jauh lebih mendasar dalam diri manusia.

Piala Dunia sebagai Ritual, Bukan Sekadar Pertandingan

Untuk memahami fenomena ini, kita perlu berhenti sejenak memandang Piala Dunia sebagai kompetisi olahraga semata. Sepanjang hampir seabad perjalanannya, turnamen ini telah bertransformasi menjadi sesuatu yang jauh lebih besar dari lapangan hijau berukuran seratus meter kali tujuh puluh meter. Ia telah menjadi ritual global, sebuah kalender emosional yang diikuti hampir separuh penduduk bumi setiap empat tahun sekali.

Sebuah ritual, dalam pengertian antropologis, adalah rangkaian tindakan yang dilakukan bersama-sama untuk menandai sesuatu yang penting, untuk menyatukan orang-orang dalam pengalaman kolektif yang melampaui kepentingan pribadi mereka masing-masing. Dalam masyarakat tradisional, ritual semacam ini bisa berupa upacara panen, perayaan pergantian musim, atau selamatan kelahiran. Di dunia modern yang semakin cair dan individualistis, ritual-ritual lama itu banyak yang memudar, digantikan oleh bentuk-bentuk baru yang justru datang dari arah yang tidak terduga: layar televisi, siaran langsung, dan seragam bola.

Piala Dunia menawarkan sesuatu yang jarang bisa ditawarkan oleh peristiwa lain di zaman ini, yaitu momen di mana miliaran manusia, dari berbagai benua, bahasa, dan keyakinan, menyaksikan hal yang sama secara bersamaan, merasakan ketegangan yang sama, dan berteriak pada detik yang sama ketika bola menyentuh jaring gawang. Tidak ada banyak peristiwa lain yang mampu melakukan itu. Bahkan pemilihan umum, yang sering disebut sebagai pesta demokrasi, hanya berlaku bagi warga satu negara. Piala Dunia jauh lebih lintas batas. Ia adalah salah satu dari sedikit pengalaman manusia modern yang benar-benar bersifat serentak dan mendunia.

Bangsa yang Terbayang, dan Bangsa yang Diperluas

Untuk memahami mengapa manusia begitu mudah merasa terikat pada sesuatu yang sesungguhnya tidak mereka jalani secara langsung, ada baiknya kita meminjam sebuah gagasan lama dari sejarawan dan ilmuwan politik Benedict Anderson. Dalam bukunya yang terkenal, Anderson mengajukan pemikiran bahwa bangsa, dalam pengertian modern, sesungguhnya adalah sebuah komunitas yang dibayangkan.

Maksudnya sederhana saja. Seorang warga negara Indonesia yang tinggal di Aceh tidak pernah bertemu, tidak pernah berjabat tangan, bahkan tidak pernah mendengar nama sebagian besar dari 280 juta warga negara lain yang tersebar dari Sabang sampai Merauke. Namun ia tetap merasa terhubung dengan mereka, merasa menjadi bagian dari satu tubuh yang sama bernama Indonesia. Perasaan itu tidak lahir dari pertemuan fisik, melainkan dari bayangan bersama yang dibentuk oleh bahasa yang sama, sejarah yang diceritakan ulang, lagu kebangsaan yang dinyanyikan di sekolah-sekolah, dan peta yang digambar dengan garis batas yang disepakati. Bangsa, kata Anderson, adalah komunitas yang dibayangkan karena keterikatannya dibangun oleh cerita bersama, bukan oleh kontak langsung.

Gagasan ini awalnya digunakan untuk menjelaskan bagaimana nasionalisme modern lahir dan menyebar. Namun bila kita renungkan lebih jauh, logika yang sama bisa menjelaskan sesuatu yang jauh lebih luas dari sekadar negara-bangsa. Piala Dunia, dalam banyak hal, menciptakan bentuk baru dari komunitas terbayang itu, hanya saja kali ini batas-batasnya bukan lagi garis wilayah di peta, melainkan warna jersey dan bendera tim kesayangan.

Seorang pendukung Argentina di Jakarta yang begadang menyaksikan Lionel Scaloni menyusun strategi, seorang pendukung Inggris di Nairobi yang memasang bendera Three Lions di jendela apartemennya, seorang pendukung Jepang di São Paulo yang mengenakan jersey biru samurai di tengah hiruk pikuk kota berbahasa Portugis, semuanya tidak saling kenal, tidak pernah bertatap muka, dan mungkin tidak akan pernah bertemu seumur hidup. Namun pada detik yang sama ketika sebuah gol tercipta, mereka semua merasakan lonjakan emosi yang identik. Mereka menjadi bagian dari komunitas terbayang yang melampaui batas negara, ras, dan bahasa, sebuah komunitas yang eksistensinya hanya bertahan selama sembilan puluh menit pertandingan, namun kekuatan emosionalnya sanggup menandingi ikatan-ikatan yang jauh lebih permanen.

Bedanya dengan komunitas bangsa yang dijelaskan Anderson, komunitas Piala Dunia ini bersifat cair dan bisa dipilih. Seseorang tidak bisa memilih dilahirkan sebagai warga negara mana, tetapi seseorang bisa memilih untuk menjadi "orang Argentina" selama satu bulan penuh setiap empat tahun sekali, cukup dengan mengenakan jersey biru-putih dan menyaksikan setiap pertandingan dengan hati yang berdebar.

Tim Nasional Kedua yang Tak Pernah Resmi

Fenomena inilah yang menjelaskan sesuatu yang sangat khas dari cara masyarakat Indonesia menikmati Piala Dunia. Hampir setiap orang Indonesia, jika ditanya, punya semacam "tim nasional kedua". Ada yang sejak kecil dibesarkan sebagai pendukung Brasil karena ayahnya penggemar Pele. Ada yang jatuh cinta pada Jerman karena kedisiplinan permainannya. Ada yang membela Argentina mati-matian karena kharisma seorang pemain tertentu, dan ketika tim itu akhirnya menjuarai turnamen, air mata yang jatuh terasa sama tulusnya dengan air mata seorang warga negara yang menyaksikan negaranya sendiri menang.

Fenomena ini sering ditertawakan sebagai sesuatu yang lucu atau berlebihan. Namun di baliknya tersimpan kebutuhan psikologis yang sangat manusiawi. Manusia, pada dasarnya, membutuhkan rasa memiliki. Ia perlu merasa menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar, sesuatu yang memberi struktur pada harapannya dan alasan untuk turut merayakan atau berduka bersama orang lain. Ketika saluran yang paling wajar untuk kebutuhan ini, yaitu identitas nasional yang berlaga di panggung dunia, tidak tersedia karena Timnas Indonesia belum pernah lolos ke Piala Dunia, maka manusia akan mencari saluran lain untuk menyalurkan kebutuhan yang sama.

Di sinilah identitas emosional mengambil alih peran yang semestinya diisi oleh identitas nasional. Orang Indonesia tidak bisa berdiri di tribun sambil menyanyikan Indonesia Raya menyaksikan timnya bertanding di Piala Dunia, tetapi ia tetap bisa menangis haru ketika Argentina akhirnya mengangkat trofi, atau merasa dadanya sesak ketika Inggris tersingkir di partai puncak. Kesedihan dan kegembiraan itu nyata, meskipun objeknya bukan negaranya sendiri. Sebab yang sesungguhnya dirayakan bukanlah kemenangan sebuah negara, melainkan pemenuhan kebutuhan batin untuk merasa terlibat dalam sesuatu yang penting.

Fenomena ini juga menjelaskan mengapa perdebatan soal Argentina versus Brasil, atau Inggris versus Prancis, bisa berlangsung sepanas perdebatan politik dalam negeri, bahkan di antara orang-orang yang secara harfiah tidak punya kepentingan apa pun terhadap hasil akhirnya. Ketika seseorang membela klub atau tim pilihannya dengan begitu keras, sesungguhnya ia sedang membela sebagian dari dirinya sendiri yang telah ia titipkan pada tim itu.

Ketika Dunia Menjadi Satu Ruang Tamu

Fenomena tim nasional kedua ini tidak mungkin terjadi tanpa satu prasyarat penting, yaitu teknologi komunikasi yang telah menghapus jarak geografis secara drastis. Beberapa dekade lalu, seseorang di Indonesia mungkin baru mengetahui hasil pertandingan Piala Dunia berhari-hari kemudian lewat surat kabar, tanpa pernah menyaksikan sendiri jalannya pertandingan. Kedekatan emosional pada tim-tim asing tentu jauh lebih sulit terbentuk dalam kondisi seperti itu.

Namun sejak televisi menyiarkan pertandingan secara langsung, dan lebih-lebih sejak internet serta media sosial memungkinkan seseorang untuk berkomentar dan berinteraksi secara real-time dengan jutaan orang lain di seluruh dunia, jarak itu praktis lenyap. Seorang penonton di sebuah kamar kos kecil di Yogyakarta kini bisa merasakan atmosfer stadion di Amerika Utara seolah ia duduk di tribun, lengkap dengan komentar-komentar dari penonton lain di Argentina, Meksiko, atau Nigeria yang muncul silih berganti di kolom komentar siaran langsung. Batas negara yang dulu begitu tegas kini menjadi kabur ketika berhadapan dengan layar ponsel yang menyala di tengah malam.

Media sosial memperkuat efek ini dengan cara yang tidak pernah dibayangkan generasi sebelumnya. Sebuah gol yang tercipta di stadion tidak lagi hanya disaksikan oleh mereka yang menonton siaran langsung, tetapi juga bergema berkali-kali lipat lewat potongan video yang dibagikan ulang, meme yang dibuat dalam hitungan menit, dan utas panjang berisi analisis dari akun-akun anonim yang tiba-tiba menjadi pakar taktik sepak bola selama satu bulan. Globalisasi, yang sering dibicarakan dalam konteks ekonomi dan perdagangan, ternyata juga bekerja dengan cara yang sangat personal lewat pengalaman menonton bersama ini. Ia mengubah dunia menjadi semacam ruang tamu raksasa, tempat miliaran orang duduk berdampingan secara maya, menyaksikan layar yang sama, dan merasakan detak jantung yang serempak.

Yang Sebenarnya Dirayakan Bukanlah Bola

Jika kita menarik semua benang ini menjadi satu, akan terlihat jelas bahwa sepak bola, dalam konteks Piala Dunia, hanyalah medium. Ia adalah kanvas kosong tempat manusia dari berbagai penjuru dunia menumpahkan kebutuhan-kebutuhan emosional yang jauh lebih purba daripada permainan itu sendiri.

Yang sebenarnya dirayakan orang-orang yang begadang di warung kopi itu bukanlah dua puluh dua orang yang mengejar satu bola di atas rumput. Yang mereka rayakan adalah harapan, sebab setiap turnamen dimulai dengan kemungkinan bahwa tim kesayangan bisa saja menjadi juara. Yang mereka rasakan adalah kemenangan, sebuah pengalaman langka untuk ikut merasa berhasil tanpa harus benar-benar berjuang di lapangan. Yang mereka tangisi adalah kegagalan, sebuah cara aman untuk berlatih menerima kekalahan tanpa harus menanggung konsekuensi nyata dalam hidup mereka sendiri. Yang mereka jalani bersama adalah perjuangan, karena setiap tim yang mereka dukung harus melewati rintangan demi rintangan sebelum sampai ke final. Yang mereka bangun adalah solidaritas, sebab di warung kopi itu, sekat-sekat sosial yang biasanya memisahkan orang-orang dengan latar belakang berbeda untuk sesaat mencair oleh sorak-sorai yang sama.

Dan pada akhirnya, yang paling mendasar dari semua itu adalah kebutuhan manusia untuk merasa menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar daripada dirinya sendiri. Manusia modern hidup dalam dunia yang semakin terfragmentasi, di mana ikatan sosial tradisional seperti tetangga, komunitas keagamaan, atau paguyuban kampung perlahan melemah digantikan oleh kesibukan individu yang masing-masing sibuk dengan layarnya sendiri. Piala Dunia, secara ajaib, membalikkan kecenderungan itu selama satu bulan penuh. Ia memaksa orang keluar rumah, berkumpul di ruang-ruang publik, berbagi emosi dengan orang asing, dan untuk sesaat melupakan sekat-sekat yang biasanya memisahkan mereka.

Stadion yang Tak Perlu Tiket Masuk

Mungkin suatu hari nanti, entah lima tahun lagi atau dua puluh tahun lagi, Garuda di dada benar-benar akan berkibar di putaran final Piala Dunia. Mungkin suatu hari nanti anak-anak Indonesia yang sekarang bermain bola di lapangan tanah becek akan tumbuh menjadi generasi yang mengantarkan negeri ini menembus panggung yang selama ini hanya bisa ditonton lewat layar kaca. Itu adalah harapan yang pantas dipelihara, dan barangkali suatu ketika akan terwujud.

Namun bahkan sebelum hari itu tiba, ada sesuatu yang perlu direnungkan baik-baik. Masyarakat Indonesia sesungguhnya telah lama menjadi bagian dari sejarah Piala Dunia, bukan lewat prestasi di lapangan hijau, melainkan lewat berpuluh-puluh tahun emosi yang dititipkan, cerita yang diwariskan dari ayah ke anak tentang mengapa harus mendukung tim tertentu, dan pengalaman kolektif yang dibangun setiap empat tahun sekali di warung-warung kopi, di ruang keluarga, dan belakangan di linimasa media sosial. Sejarah itu memang tidak tercatat dalam buku statistik FIFA, tetapi ia hidup nyata dalam ingatan kolektif bangsa ini, sama nyatanya dengan sejarah yang tercatat di atas kertas.

Barangkali di situlah letak pelajaran yang sesungguhnya dari fenomena ini. Manusia tidak selalu membutuhkan kewarganegaraan untuk merasa memiliki, dan tidak selalu membutuhkan paspor untuk merasa menjadi bagian dari sebuah perjalanan. Terkadang, satu pertandingan sepak bola, yang disaksikan bersama jutaan orang lain yang tidak pernah ia kenal, sudah cukup untuk membuat seseorang merasa duduk di bangku yang sama, di stadion yang sama, meskipun jaraknya dari lapangan itu terpisah ribuan kilometer, hanya ditemani secangkir kopi yang mulai dingin dan langit dini hari yang perlahan menguning menjelang subuh.