Lipstick Economy dan Duck Syndrome
Membaca Fenomena Konsumsi Pengalaman di Indonesia
Fajar Wahyu Gumelar
Dewasa ini, Indonesia memperlihatkan sebuah paradoks sosial-ekonomi yang menarik. Di satu sisi, masyarakat menghadapi tekanan ekonomi berupa meningkatnya biaya hidup, harga kebutuhan pokok, suku bunga, hingga ketidakpastian pasar kerja. Di sisi lain, berbagai sektor yang menawarkan pengalaman (experience) justru mengalami pertumbuhan yang pesat.
Menjamurnya coffee shop, meningkatnya popularitas olahraga padel dengan lapangan yang selalu penuh, hingga konser musik yang tiketnya habis dalam hitungan menit menunjukkan bahwa masyarakat, terutama generasi muda, tetap memiliki keinginan yang tinggi untuk mengonsumsi pengalaman.
Fenomena ini sekilas tampak bertentangan dengan logika ekonomi konvensional. Jika daya beli sedang melemah, mengapa masyarakat justru mengalokasikan pengeluaran untuk aktivitas yang bukan merupakan kebutuhan primer? Untuk memahami fenomena tersebut, terdapat dua konsep yang dapat digunakan secara bersamaan, yaitu Lipstick Economy dan Duck Syndrome.
Lipstick Economy: Ketika Pengalaman Menjadi Kemewahan yang Terjangkau
Konsep Lipstick Economy yang diperkenalkan oleh Leonard Lauder menjelaskan bahwa ketika kondisi ekonomi memburuk, masyarakat tidak sepenuhnya berhenti melakukan konsumsi. Mereka hanya mengubah pola konsumsinya, dari barang mewah dengan harga tinggi menjadi barang atau pengalaman yang lebih terjangkau, tetapi tetap memberikan kepuasan emosional.
Jika dahulu simbol Lipstick Economy adalah lipstik, maka dalam konteks Indonesia saat ini simbol tersebut telah bergeser menjadi experience economy atau ekonomi berbasis pengalaman.
Secangkir kopi seharga Rp40.000, bermain padel selama dua jam bersama teman, atau menonton konser artis favorit memang bukan kebutuhan dasar. Namun, dibandingkan dengan membeli mobil baru, berlibur ke luar negeri, atau membeli barang mewah lainnya, aktivitas tersebut masih dianggap sebagai bentuk "kemewahan kecil" (affordable luxury).
Melalui aktivitas tersebut, masyarakat tetap memperoleh rasa senang, penghargaan terhadap diri sendiri (self-reward), serta kesempatan untuk sejenak melepaskan diri dari tekanan hidup tanpa harus mengeluarkan biaya yang sangat besar.
Oleh karena itu, menjamurnya coffee shop, padel, hingga konser tidak selalu menunjukkan bahwa kondisi ekonomi masyarakat sedang baik. Sebaliknya, fenomena tersebut dapat dipahami sebagai bentuk adaptasi psikologis terhadap tekanan ekonomi.
Duck Syndrome: Ketika Kebahagiaan Harus Dipertontonkan
Namun, Lipstick Economy belum mampu menjelaskan mengapa aktivitas tersebut hampir selalu berkaitan dengan media sosial. Di sinilah konsep Duck Syndrome menjadi penting.
Duck Syndrome menggambarkan kondisi ketika seseorang terlihat tenang, sukses, produktif, sehat, dan bahagia di permukaan, padahal di balik layar ia sedang menghadapi tekanan finansial, pekerjaan, akademik, maupun persoalan kehidupan lainnya.
Era media sosial semakin memperkuat fenomena tersebut. Coffee shop menyediakan latar yang estetik untuk menunjukkan produktivitas. Lapangan padel menjadi simbol gaya hidup sehat, aktif, sekaligus eksklusif. Konser menjadi bukti bahwa seseorang memiliki kehidupan sosial yang menyenangkan serta mengikuti tren budaya populer.
Unggahan di Instagram Story, TikTok, maupun Threads pada akhirnya tidak lagi sekadar membagikan aktivitas, melainkan menjadi bentuk manajemen citra (impression management). Yang dikonsumsi bukan hanya kopi, olahraga, atau musik, melainkan juga identitas sosial.
Laptop di atas meja, secangkir latte, dan sudut ruangan bergaya minimalis menjadi simbol bahwa seseorang sedang bekerja keras, berkembang, serta memiliki gaya hidup modern. Padahal, belum tentu pekerjaan tersebut berjalan dengan baik atau kondisi finansialnya stabil. Coffee shop pun menjadi ruang untuk memperlihatkan kehidupan yang tampak ideal.
Fenomena padel menunjukkan adanya pergeseran makna olahraga. Orang datang bukan sekadar untuk berolahraga, tetapi juga untuk membangun jejaring, memperluas relasi profesional, hingga menunjukkan bahwa dirinya merupakan bagian dari kelompok masyarakat urban yang mengikuti tren global. Fenomena ini serupa dengan golf pada dekade sebelumnya, tetapi dengan biaya yang relatif lebih terjangkau dan citra yang lebih muda. Dalam perspektif Lipstick Economy, biaya bermain padel masih berada dalam kategori konsumsi yang dapat dijangkau oleh kelas menengah.
Sementara itu, dalam perspektif Duck Syndrome, dokumentasi bermain padel menjadi representasi bahwa seseorang memiliki waktu luang, tubuh yang sehat, relasi sosial yang baik, serta kehidupan yang seimbang (work-life balance), meskipun realitasnya belum tentu demikian.
Fenomena konser di Indonesia juga menunjukkan pola yang sama. Tiket konser yang habis dalam hitungan menit sering kali terjadi ketika masyarakat sedang mengeluhkan mahalnya biaya hidup. Hal tersebut menunjukkan bahwa konser telah mengalami perubahan fungsi. Masyarakat tidak lagi sekadar membeli musik, tetapi juga membeli pengalaman sosial yang menyertainya.
Media sosial semakin memperkuat nilai tersebut. Video konser, gelang tiket, merchandise, hingga unggahan ketika menyanyikan lagu bersama ribuan orang menjadi simbol bahwa seseorang "hadir" dalam momen budaya yang penting. Fear of Missing Out (FOMO) membuat nilai sosial sebuah konser sering kali lebih besar daripada nilai hiburannya sendiri.
Fenomena-fenomena tersebut menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia sedang mengalami pergeseran dari ownership economy menuju experience economy. Yang dicari bukan lagi sekadar kepemilikan barang, melainkan pengalaman yang mampu menghasilkan kepuasan emosional sekaligus pengakuan sosial.
Dalam kondisi ekonomi yang penuh tekanan, masyarakat tetap mencari "ruang pelarian" melalui pengalaman yang relatif terjangkau (Lipstick Economy). Namun, pengalaman tersebut tidak berhenti pada konsumsi pribadi. Melalui media sosial, pengalaman itu dipublikasikan untuk membangun citra diri sebagai individu yang produktif, sehat, sukses, dan bahagia (Duck Syndrome).
Dengan demikian, menjamurnya coffee shop, lapangan padel, dan konser di Indonesia bukan sekadar mencerminkan meningkatnya daya beli masyarakat. Fenomena tersebut justru menunjukkan perubahan mendasar dalam budaya konsumsi generasi muda. Mereka tidak lagi membeli produk, melainkan membeli pengalaman, identitas, dan validasi sosial. Di era digital, nilai sebuah pengalaman tidak hanya terletak pada apa yang dirasakan, tetapi juga pada bagaimana pengalaman tersebut dapat dilihat, diakui, dan diapresiasi oleh orang lain. Di sinilah Lipstick Economy menjelaskan mengapa masyarakat tetap mengonsumsi pengalaman di tengah tekanan ekonomi, sementara Duck Syndrome menjelaskan mengapa pengalaman tersebut perlu ditampilkan sebagai bagian dari narasi kehidupan yang tampak ideal.